Kilas Balik & Hikmah: Saat Gema Sholawat Nusantara 2018 Memperebutkan Piala Presiden
Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai perbedaan pendapat, ada kerinduan mendalam akan ekspresi keagamaan yang menyejukkan, damai, dan menyatukan. Banyak umat merasa wajah Islam yang penuh cinta dan merangkul kearifan lokal seakan tersisih oleh narasi yang lebih keras. Umat merindukan perekat spiritual yang mampu menguatkan kembali tali persaudaraan, berlandaskan pada satu titik cinta yang sama: kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Bayangkan jika gema sholawat yang merdu dari surau dan pesantren perlahan memudar, digantikan oleh riuhnya perdebatan tanpa ujung. Kearifan lokal, yang selama berabad-abad menyatu harmonis dengan dakwah Islam di Nusantara, justru mulai dipertanyakan. Tanpa sebuah gerakan besar, nuansa Islam yang sejuk berisiko terkikis, dan kekayaan tradisi sholawat di setiap sudut negeri bisa terlupakan oleh generasi baru.
Menjawab kerinduan tersebut, pada tahun 2018 lahir sebuah gebrakan kolosal: Festival Lomba Sholawat Nusantara Piala Presiden. Ini bukan sekadar kompetisi, melainkan gerakan kebudayaan akbar yang bertujuan menggemakan kembali cinta kepada Sang Nabi. Acara ini menjadi panggung megah bagi ribuan kelompok dari berbagai latar belakang—mulai dari kelompok pengajian, santri, mahasiswa, hingga karyawan BUMN—untuk bersatu dalam satu ekspresi cinta, membuktikan bahwa Islam Nusantara tetap hidup, kuat, dan relevan sebagai perekat bangsa.
Menggali Kembali Mutiara Islam Nusantara
Inisiator acara ini, Nusron Wahid, yang kala itu menjabat sebagai Ketua Panitia Pengarah, menekankan visi besar di baliknya. “Dengan tema acara ‘Cinta Sang Nabi’, kami ingin menabur kembali nilai Islam yang penuh bahasa cinta, bukan bahasa perbedaan dan kebencian. Ini adalah upaya merawat tradisi dan kearifan lokal sekaligus mengangkat kembali kekayaan Islam Nusantara,” ungkapnya saat itu.
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa festival tersebut lebih dari sekadar adu keindahan vokal. Ia adalah sebuah pernyataan sikap; pengingat bahwa kekayaan tradisi sholawat di Indonesia merupakan bukti nyata bagaimana Islam dan budaya dapat membaur secara indah, saling menguatkan, dan melahirkan identitas keagamaan yang khas, damai, dan toleran.
Bukan Sekadar Lomba, Tapi Gerakan Persatuan
Skala penyelenggaraan Festival Sholawat Nusantara 2018 menunjukkan keseriusan misinya. Lomba ini tidak terpusat di satu kota, melainkan dihelat serentak di seluruh penjuru Indonesia. Dimulai dari jenjang kecamatan, para peserta terbaik kemudian beradu di tingkat kabupaten, provinsi, hingga mencapai puncak di tingkat nasional. Mekanisme berjenjang ini memastikan bahwa gema sholawat benar-benar menyentuh hingga ke akar rumput.
Ketua Panitia Acara saat itu, Habib Sholeh, menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk mengedepankan ajaran Islam yang damai. “Kita perlu mengingatkan kembali ruh ajaran Islam yang meneladani akhlak Rasulullah. Sholawat sebagai ekspresi cinta umat kepada Nabinya merupakan salah satu cara untuk memberikan nuansa Islam yang sejuk,” tuturnya. Beliau meyakini ketika masyarakat kembali terbiasa mengekspresikan bahasa cinta dalam tradisi keagamaannya, suasana sosial yang lebih adem akan tercipta. “Agama jadi perekat yang menguatkan bukan menjadi faktor yang bisa memecah belah,” tegasnya.
Puncak Apresiasi: Dari Istana hingga Hari Santri
Dukungan penuh dari pemerintah menjadi penanda betapa pentingnya acara ini bagi keutuhan bangsa. Acara pembukaan yang digelar pada 24 Februari 2018 dihadiri langsung oleh Presiden Joko Widodo, memberikan legitimasi dan semangat luar biasa bagi seluruh peserta. Momen ini menjadi sinyal kuat bahwa negara hadir dalam upaya merawat tradisi luhur bangsa.
Rangkaian lomba mencapai puncaknya pada momen yang sangat simbolis, yaitu bertepatan dengan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2018. “Harus diakui, tradisi sholawat tidak dapat dipisahkan dari tradisi pesantren,” ujar Habib Sholeh. Final di Hari Santri menjadi sebuah penegasan bahwa pesantren adalah garda terdepan dalam menjaga napas sholawat di bumi Nusantara. Kesuksesan acara ini juga tak lepas dari kolaborasi berbagai lembaga, seperti Lazisma, PP RMI-NU, Jemaah Zikir Yaqowiyy, Ikhwanul Mubalighin, PP IPNU, dan FKDT.
Hikmah yang Dapat Dipetik
Melihat kembali perhelatan akbar ini, ada beberapa hikmah penting yang bisa kita renungkan. Pertama, sholawat adalah instrumen pemersatu yang luar biasa. Ia mampu melintasi batas-batas organisasi dan status sosial, menyatukan hati dalam kecintaan kepada Rasulullah. Kedua, dukungan pemerintah terhadap kegiatan kebudayaan-keagamaan seperti ini sangat krusial untuk memperkuat identitas bangsa. Ketiga, kompetisi yang positif dapat menjadi sarana efektif untuk mendorong generasi muda mencintai dan melestarikan warisan tradisi para leluhur.
Tanya Jawab Seputar Festival Sholawat Nusantara 2018
Apa tujuan utama diadakannya Festival Sholawat Nusantara 2018?
Tujuan utamanya adalah untuk menggaungkan kembali nilai-nilai Islam yang penuh cinta dan damai, merawat kearifan lokal, serta menjadikan sholawat sebagai media perekat persatuan bangsa.
Mengapa acara ini memperebutkan Piala Presiden?
Piala Presiden melambangkan dukungan dan apresiasi tertinggi dari negara terhadap upaya pelestarian tradisi sholawat. Ini memberikan legitimasi dan semangat yang lebih besar bagi para peserta.
Siapa saja yang terlibat dalam penyelenggaraan acara ini?
Acara ini merupakan hasil kerja bersama dari berbagai organisasi seperti Lazisma, PP RMI-NU, Jemaah Zikir Yaqowiyy, Ikhwanul Mubalighin, PP IPNU, dan Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT).
Apa pesan yang ingin disampaikan dengan memilih Hari Santri sebagai hari final?
Pemilihan Hari Santri sebagai puncak acara adalah untuk menegaskan hubungan erat antara tradisi sholawat dengan dunia pesantren, sebagai pengakuan bahwa santri adalah benteng utama dalam menjaga amalan sholawat di Indonesia.